CV. Samudra Jaya Perkasa terindikasi melakukan Penyimpangan Proyek Pengaspalan Jalan

502
0

BINTAN, KabarKepri.com – Proyek pembangunan jalan dan drainase disimpang Wacopek Kelurahan Gunung Lengkuas, Kecamatan Bintan Timur dengan nilai kontrak Rp. 3.117.584.570.06,- yang dikerjakan oleh CV. Samudra Jaya Perkasa terindikasi terjadi penyimpangan dalam pelaksanaannya.

Menurut Ketua Harian LSM Gerakan Tuntas Korupsi (GETUK) Provinsi Kepri, Tengku Azhar, Selasa (10/12/2019) saat ditemui mengatakan Proyek dengan masa pelaksanaan 150 (seratus limapuluh hari) kalender kerja yang bersumber dari dana APBD Kabupaten Bintan tahun anggaran 2019 ini diduga kuat telah terjadi penyimpangan dalam pelaksanaannya.

“Pelaksanaan proyek ini terindikasi belum memenuhi standar spesifikasi dan terjadi pengurangan volume bahan material”, jelas Tengku.

Selanjutnya Tengku menjelaskan, sesuai dari hasil fakta investigasi dilapangan terlihat jelas yang diperkirakan pengerjaan tersebut dengan panjang volume lebih kurang 840 meter dan lebar 6 meter, ketebalannya juga masih diragukan.

Kondisi jalan pada saat investigasi mengalami kerusakan pada bagian jalan tersebut. Dan pada bagian drainase juga mengalami kerusakan pada bagian dasar lantai drainase dengan panjang 420 meter dan di bahu sisi jalan baik lama dan kiri.

Menyikapi hal ini Tengku Azhar segera melakukan klarifikasi kepada pihak PUPR Kabupaten Bintan. Di ruangan Bagian Bina Marga Dinas PUPR Bintan hanya tampak empat orang staf yang berada didalam ruangan tersebut.

Ketua Harian LSM Getuk ini mencoba mengklarifikasi kepada salah satu staf PUPR tersebut dikarenakan Kadis PUPR sedang tidak berada ditempat. Saat ditanyakan siapa yang bertanggungjawab dalam proyek pekerjaan itu, salah seorang staf mengatakan kabid juga sedang tidak berada ditempat begitu juga dengan PPTK yang juga sedang lagi dalam keadaan sakit.Kemudian Tengku diarahkan kepada salah satu staf PUPR yang bernama Roni dan proses klarifikasi pun dilanjutkan.

Saat Tengku melakukan klarifikasi, Roni menyampaikan bahwa proyek tersebut belum dibayarkan 100% karena belum berakhir. Kontrak pelaksanaan nya sampai akhir Desember 2019 ini. Roni juga mengatakan alat-alat kerja masih berada dilapangan. akan tetapi alat alat tersebut dalam proses perbaikan.

Menurut pengamatan proyek pengaspalan itu sudah rampung sejak bulan oktober 2019 dan terlihat aktifitas lagi dalam 2 bulan ini. Dilapangan tak nampak satupun peralatan kerja dan bahan material pendukung. Bahkan papan plang Proyek pun sudah rubuh dan hancur.

Tengku kemudian menanyakan hal menyangkut penggelembungan anggaran atau mark up anggaran dalam proyek ini. Dalan hal ini menurut pengamatan Tengku, nilai kontrak dengan tidak sesuai dengan volume dan item pekerjaan dilapangan. Roni menjawab hal tersebut bentuk penanganannya sedikit berbeda.

Proyek pengaspalan dan drainase itu baru selesai dikerjakan Oktober 2019 lalu, namun kenyataannya kerusakan sudah terjadi dibanyak bagian pekerjaan proyek tersebut terutama kerusakan aspal.

LSM Gerakak Tuntas Korupsi (GETUK) akan terus memantau penanganan proyek ini. Jika tidak ada respon positif, sampai habis masa pemeliharaan masih juga terdapat kerusakan, Kami dari LSM Getuk akan segera mengambil tindakan hukum, tutup Tengku Azhar. (Rud)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here