Protokoler DPRD Kepri Dinilai Lecehkan Tokoh Sentral Pejuang Pembentukan Provinsi Kepri

436
0

Saat paripurna pengambilan sumpah jabatan Anggota DPRD Kepri, periode 2019-2024, Senin, (9/9/2019), ternyata ada kejadian yang memalukan yang dialami Pejuang Pembentukan Provinsi Kepri, Datok Huzrin Hood.

Kejadian itu bermula saat kehadiran Huzrin di Paripurna. Awalnya, tidak ada yang aneh atas kehadirannya. Namun, ketika Huzrin hendak duduk di barisan bangku A (VVIP) yang biasa disiapkan untuk Gubernur, Kapolda, Danrem dan tamu penting lainnya, tiba tiba seorang staff protokol Sekretariat DPRD Kepri, menghampiri, dan minta Huzrin pindah duduk ke barisan yang biasa disiapkan untuk kepala kepala SKPD.

Kejadian ini, tentu membuat Huzrin merasa dilecehkan. Karena, ia hadir sebagai tokoh masyarakat dan pejuang pembentukan Provinsi Kepri.

”Terus terang, saya sangat kecewa atas perlakuan protokol DPRD Kepri ini. Ingin rasanya saya melempar kursi. Sama saja Badan Perjuangan Pembentukan Provinsi Kepri tidak dihargai. Saya malu dengan tamu-tamu yang hadir saat itu,” kata Huzrin Hood, Kamis, (12/9/2019), malam.

Terkait insiden yang ia alami, Huzrin mengaku teman-teman dari Badan Perjuangan Pembentukan Provinsi Kepri, akan mendatangi kantor DPRD Kepri di Pulau Dompak. Kehadiran mereka untuk mempertanyakan kejadian memalukan ini.

”Rencana, Senin, (15/9/2019), teman-teman dari Badan Pembentukan Provinsi Kepri, akan mendatangi kantor DPRD Kepri,” katanya.

Sementara itu, kejadian yang dialami Huzrin Hood, membuat warga bereaksi negatif. Ketua Umum Gerakan Moral 3000 Masyarakat Kepri tahun 2002 Demo di Gedung DPR-RI menuntut Pengesahan Undang Undang Pembentukan Provinsi Kepri, Idris Zaini, menegaskan, rasanya sulit mempercayai sebuah berita yang menyatakan Huzrin Hood, Pejuang Sentral berdirinya Provinsi Kepri, dipindahkan tempat duduknya Huzrin di acara pelantikan wakil rakyat DPRD Provinsi Kepri masa bakti 2019-2024 sangat merendahkan Huzrin.

”Luar biasa kejadian yang dialami Huzrin. Ia salah satu tokoh ikut berjuang, dengan ide, pikiran, tenaga, waktu, harta dan fasilitas,” katanya.
.
Sebagai mantan Senator Melayu pertama Provinsi Kepri, anggota DPD-R I/ MPR-RI dan Mantan Ketua Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB-HMI) tentunya sudah terbiasa dengan kejadian ini. Namun, teman-teman BP3KR mempersoalkannya.

Sekwan dan Plt. Gubernur Kepri, Isdianto, diharapkan bisa ikut menengahinya. Mungkin dengan cara memanggil Sekwan atau meminta langsung protokolnya bisa menyejukkan suasana.

Salah seorang yang banyak tahu tentang perjuangan Datok Huzrin yang dilakukan dengan susah payah dan penuh pengorbanan tidak seharusnya beliau (Huzrin, Red) mendapatkan perlakuan yang memalukan. Ini sama saja merendahkan marwah para pejuang.

Mantan Anggota DPD RI Idris Zaini mengaku telah menghubungi mantan Ketua DPRD Kepri Jumaga Nadeak. Alhamdulillah, katanya Jumaga Nadeak dapat mengerti dan memahaminya. secara pribadi beliau juga sudah menyampaikan permintaan maafnya.

Kedepan dirasakan sangat perlu bagi Pemerintah dan DPRD Kepri untuk membuat kebijakan protokoler yang bisa menghormati dan menghargai para pejuang pembentukan Provinsi.

Terpisah, Pendiri Komunitas Anak Melayu Kota Batam, Said Apriandi, mengatakan, Huzrin Hood adalah Tokoh Pejuang Sentral Pembentukan Provinsi Kepulauan Riau, dan sampai hari ini belau adalah Ketua Umum Badan Pekerja Pembentukan Provinsi Kepulauan Riau (BP3KR) yang mana beliau bersama tokoh-tokoh masyarakat tokoh- tokoh pemuda dan Mahasiswa, serta seluruh elemen masyarakat Kepri yang sudah berjuang.

Sepak terjang dan pengorbanan beliau sangat nyata. Beliau saat itu adalah seorang Bupati Kepulauan Riau. Beliau rela mempertaruhkan jabatannya sebagai seorang Bupati Kepulauan Riau demi terwujudnya mimpi seluruh masyarakat Kepulauan Riau agar terbetuk Provinsi Kepulaun Riau.

”Kejadian pemindahan tempat duduk Huzrin Hood ini sangat disayangkan, dan ini adalah kesalahan yang fatal . Menurut kami, ini adalah suatu hal memalukan, Kepri adalah tanah melayu yang dikenal sebagai suku bangsa yang berbudi perilaku luhur dan berbudi bahasa santun,” katanya.

Said Apriandi minta dengan segera, pihak panitia penyelenggara pelantikan DPRD Provinsi Kepri sebagai pihak yang bertanggung jawab meminta maaf secara terbuka kepada tokoh-tokoh pejuang pembentukan Provinsi Kepulauan Riau, terkhususnya kepada Huzrin Hood.

”Karena ada tetesan keringat beliau. Ada penat pemikiran beliau dan ada pengorbanan yang besar yang beliau persembahkan untuk perjuangan pembentukan Provinsi Kepri. Jika tidak bisa berterima kasih dan menghormati, setidak belajarlah menghargai pengorbanan dan perjuangan orang lain,” tegasnya. (JS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here